Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup tinggi, yakni sebesar 36,7 % dari level 2.614 pada akhir Desember 2009 menjadi 3.574 pada kuartal III/2010, tidak terlepas dari melonjaknya harga saham sektor industri semen.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diolah SINDO menyebutkan, saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mengalami kenaikan harga tertinggi sebesar 56,4% dari posisi Rp 1.550 pada awal akhir Desember 2010 menjadi Rp 2.425 pada akhir September 2010. diurutan kedua adalah PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP) naik 34,3% dari Rp 13.700 menjadi Rp 18.400. sementara saham PT Semen Gresik Tbk (SMGR) mengalami pertumbuhan 31,1% dari Rp 7.550 menjadi Rp 9.900.
Kepala Riset Recapital Pardomuan Sihombing mengungkapkan, kenaikan harga saham-saham di sektor semen dipicu naiknya permintaan semen. Sementara dari sisi pasokan, dinilai masih minim. Karena itu, cenderung mengerek harga komoditas tersebut, termasuik harga di lantai bursa. Kenaikan itu tak lepas dari mulai membaiknya sektor property dan infrastruktur meski dalam kisaran terbatas. ”Memasuki kuartal 3 infrastruktur kan baru berjalan,” tutur Pardomoan kepada SINDO kemarin.
Menurut dia, menjelang tutup tahun sektor infrastruktur akan bersinar. Pasalnya, anggaran pemerintah di sektor tersebut mulai terealisasi pada paruh kedua tahun ini. artinya, pembangunan mulai digenjot sehingga permintaan semen mulai meningkat. Ini berdampak positif pada saham sektor semen. ”Jadi, semen masih bagus,” ujarnya.
Dampak positif pembangunan ini bisa dilihat dari sejumlah emiten semen yang menaikkan kapasitas produksinya. INTP, misalnya, dalam dua tahun kedepan diharapkan produksi semennya mencapai 20,1 juta ton/tahun meningkat dari 2010 yang ditargetkan sebesar 18,6 juta ton. Kapasitas produksi tahun ini juga mengalami kenaikan sebesar 1,5 juta ton dibanding tahun sebelumnya sebesar 17,1 juta ton.
Sementara itu, SMGR hingga akhir 2010 menargetkan produksi sebesar 19,5 juta ton dan pada 2011 menjadi 20,5 juta ton. Peningkatan produksi akan didukung dengan tercapainya kapasitas maksimal dari peralatan pabrik perseroan. Adapun SMCB menargetkan produksi semen pada 2010 tumbuh 15,27% menjadi 8,3 juta ton, dibanding 2009 sebesar 7,2 juta ton. Produsen semen ini mengincar 14% pasar semen domestik.
Menurut data yang ada, kapasitas terpasang industri semen tahun ini mencapai 52,32 juta ton, naik 5,38 juta ton dibandingkan posisi 2009, yakni 46,94 juta ton. Peningkatan kapasitas terpasang itu ditopang oleh ekspansi dan optimalisasi setidaknya 5 produsen semen nasional, yakni Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Indocement Tunggal Perkasa, dan beroperasinya kembali pabrik Semen Andalas.
Dengan berbagai indikator tersebut, Pardomuan menilai saham sektor semen masih prospektif. Hal ini sejalan dengan target pemerintah yang menggenjot sektor infrastruktur dalam 5 tahun ke depan. Bahkan hingga 2012, investasi di sektor tersebut mencapai Rp 1.300 triliun. Hal ini tentunya akan meningkatkan permintaan semen nasional. Tak heran, harga ketiga emiten semen tersebut telah melampaui target harga riset Recapital yang mematok harga saham SMGR di Rp 9.670, INTP Rp 19.180 dan SMCB Rp 2.280. ”Sekarang kita sedang menunggu hasil laporan keuangan kuartal ketiga mereka,” kata Pardomuan.
Pengamat pasar modal Muhammad Sugiarto menilai, saham sektor semen hingga akhir tahun ini masih memiliki outlook positif. Sektor ini ada kecenderungan naik untuk jangka menengah. Selain itu, diliat dari faktor fundamentalnya, permintaan domestik untuk semen masih sangat besar. Sementara pasokan sangat terbatas mengingat perusahaan semen nasional sudah hampir fullI kapasitas. ”Kalau mau meningkatkan produksi, harus ada investasi baru dalam bentuk pabrik baru,” pungkasnya.