PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Memperkirakan laba bersih sepanjang 2010 sekitar Rp 3,4-3,6 triliun. Laba tersebut naik 5-10% dibandingkan 2009 sebesar Rp 3,3 triliun.
Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto mengatakan, pertumbuhan laba bersih tahun lalu di topang oleh efisiensi biaya. Namun, dia mengakui, pendapatan perseroan pada 2010 relatif tidak bertumbuh, menyusul gangguan produksi akibat gempa bumi di Sumatera Barat. “Pendapatan tahun lalu bisa dikatakan sama dengan 2009 sekitar Rp 13,7 triliun. Kalaupun naik, sangat sedikit sekali,” Ungkap Dwi di Jakarta kemarin, Senin(24/1).
Tahun ini, produsen semen terbesar di Indonesia milik pemerintah itu memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 10%. Laba bersih di targetkan naik 10-15%.
Peningkatan kinerja keuangan itu bakal ditopang oleh kenaikan produksi semen. “Selain itu, kami telah menambah kapasitas pabrik, sehingga bisa menghasilkan tambahan produksi sebanyak 1,5 juta ton pada 2011,” jelas Dwi.
Tahun ini, Semen Gresik menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 5 triliun. Perseroan akan menggunakan dana capex Rp 4 triliun untuk pengembangan usaha, salah satunya distribusi. Sisanya dipakai untuk meningkatkan program efisiensi.
Dwi menjelaskan, sumber pendapatan Capex tersebut berasal dari pinjaman dank kas internal. Perseroan telah mendapat komitmen kredit dari konsorsium bank yang dipimpin oleh PT Bank Mandiri Tbk. Pinjaman tersebut diharapkan mampu memenuhi 30-40% dari kebutuhan capex tahun ini.
Dwi menegaskan, pihaknya sengaja mengandalkan kas internal sebagai sumber pendanaan. Kebijakan itu bertujuan untuk menjaga rendahnya rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) perseroan.
DER tersebut kemungkinan meningkat pada 2012, seiring penambahan utang perusahaan. Sebab, Semen Gresik akan membangun pabrik baru di Sumatera Barat dengan investasi sebesar Rp 3,5 triliun.
Adapun pada 2011 perseroan akan menampungkan pembangunan pabrik baru di Tuban, Jawa Timur dan Tonasa, Sulawesi Selatan. Penyelesaian proyek itu lebih cepat dibandingkan rencana semula pada 2012. Dwi mengharapkan kedua pabrik baru tersebut dapat menambah produksi semen perseroan menjadi 25 juta ton.
Sementara itu, mengenai rencana akuisisi produsen semen Malaysia dan Vietnam, Dwi menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap pembicaraan.
Sesuai Ekspektasi
Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Andrianus Bias mengatakan, perolehan laba bersih Semen Gresik pada 2010 sesuai ekspektasi. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa produsen semen lain seperti Indocement dan Holcim, pertumbuhan Semen Gresik tergolong rendah.
Mengenai target tahun ini, Andrianus menilai bahwa itu sangat realistis. Sebab, target tersebut dipatok guna mengejar ketertinggalan pada 2010. apalagi, tahun ini, produksi Semen Gresik tidak bakal menemukan kendala.
“Jadi, saya melihat mereka boisa memenuhi target tersebut. Bahkan, Semen Gresik bisa mencapai kenaikan laba sedikitnya 18% atau menembus Rp 4,1 triliun. Hal itu seiring pertumbuhan konsumsi semen domestic 7%,” jelas Adrianus.
Dia optimis peningkatan kerja perseroan dapat mendorong kenaikan harga saham SMGR di Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena itu, penurunan SMGR Dalam beberapa hari terakhir membuat saham tersebut semakin menarik untuk dikoleksi.
“Valuasi SMGR paling murah, karena price to earning ratio (PER) tahun ini sekitar 12,5 kali. Target harga SMGR sepanjang 2011 sekitar Rp 11.500,” ujar Adrianus.