Semen Gresik Ekspansi US$ 100 Juta

BUMN semen, PT Semen Gresik Tbk (SG), mengucurkan dana US$ 100 juta untuk menaikkan kapasitas produksi dari 17 juta ton menjadi 19 juta ton. Ekspansi dimulai sejak tahun lalu dan ditargetkan rampung tahun ini.
 
“Tambahan kapasitas diperlukan untuk mengantisipasi pertumbuhan konsumsi semen domestik,” ujar Sekretaris Perusahaan SG Sunardi di Jakarta, Senin (19/7).
 
Sunardi menjelaskan, ekspansi dilakukan dengan cara memodifikasi peralatan pabrik. Penambahan kapasitas dilakukan oleh anak usaha SG, yaitu PT Semen Padang, PT Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa. Setiap penambahan kapasitas satu ton membutuhkan dana US$ 45.
 
Berdasarkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Semen Padang menambah kapasitas 860 ribu ton menjadi 6,1 juta ton. Adapun Semen Gresik dan Semen Tonasa masing-masing menambah kapasitas sebesar 800 ribu ton dan 420 ribu ton. Total kapasitas Semen Gresik akan mencapai 9 juta ton sementara Semen Tonasa mencapai 3,9 juta ton.
 
Dengan kapasitas sebesar 19 juta ton setahun, SG menjadi produsen semen terbesar di Tanah Air. Pangsa pasar SG pada 2009 mencapai 44%. Tahun ini SG menargetkan penjualan naik 6,5% menjadi sekitar 18,65 juta ton.
 
Selain menambah kapasitas lewat modifikasi pabrik, SG sejak tahun lalu mulai membangun dua pabrik baru, yaitu Tonasa V, di Pangkep, Sulawesi Selatan, berkapasitas 2,5 juta ton. Proyek ini menelan dana Rp 3 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2011.
 
Di samping itu, SG juga membangu pabrik baru di Tuban berkapasitas 2,5 juta ton. Proyek ini menelan dana Rp 3,5 triliun dan ditargetkan tuntas pada 2012.
 
Tahan Kenaikan Harga

Di sisi lain, SG belum berencana menaikkan harga jual semen, meski pemerintah telah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) maksimal 18%. Sunardi mengaku manajemen SG masih menghitung dampak kenaikan TDL terhadap harga jual semen.
 
"Memang tarif naik, tapi ada beberapa komponen yang diturunkan, seperti dihapuskannya beban minimum," jelas dia. Dia menerangkan, saat ini PLN memasok sekitar 17% total kebutuhan listrik SG. Sisanya, jelas dia, dipenuhi dari pembangkit listrik sendiri. "Biasanya harga naik karena ada cost driven dan market driven. Tapi sejauh ini dua faktor itu belum mendongkrak harga semen," tegas dia. Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono menjelaskan, kontribusi listrik terhadap total produksi mencapai 30%. Sedangkan sisanya disumbangkan oleh batubara, energi, karyawan dan transportasi.
 
Urip khawatir kenaikan TDL akan mendorong produsen semen menaikkan harga jual. Jika ini terjadi, daya saing lokal bakal tergerus, sehingga memicu banjir semen impor. "Sekarang mereka tidak bisa masuk ke pasar karena harganya kalah dengan barang lokal. Tapi kalau harga semen lokal naik, beberapa pihak akan tertarik mengimpor semen," tegas dia.
 
ASI memprediksi penjualan semen domestik tahun ini naik 6% menembus 40 juta ton, dibanding 2009 38 juta ton. Hingga semester I-2010, penjualan semen domestik meningkat 11% menjadi 19,5 juta ton.
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy