SMGR akan mengganti penggunaan bahan bakar batu bara kalori tinggi yang mencapai 1 juta ton per tahun dengan kalori medium dan rendah untuk pabrikasi semen guna menekan biaya produksi. Tingginya harga energy untuk kegiatan pabrikasi menjadi salah satu ancaman bagi industry semen pada 2011, di samping kenaikan biaya transportasi akibat pembatasan bahan bakar bersubsidi.
Dia menyebutkan kebutuhan batu bara Grup Semen Gresik, yakni Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tonasa, mencapai 3 juta ton per tahun, diantaranya 30% atau sekitar 1 juta ton berupa batu bara kalori tinggi. Harga bahan bakar itu selama 2010 berkisar US$50-US$60 per ton. "Mulai tahun ini, kami akan sepenuhnya menggunakan batu bara kalori medium dan kalori rendah guna menekan biaya produksi. Transportasi juga masuk komponen biaya produksi yang harus diefisienkan," ujarnya di sela-sela acara pergantian tahun, Sabtu dini hari.
Dwi menambahkan selama 2010, Grup Semen Gresik merealisasikan produksi semen 18,5 juta ton dan akan ditingkatkan menjadi 20 juta ton pada 2011 seiring dengan pertumbuhan pasar semen di dalam negeri yang diperkirakan mencapai 6,5%. Untuk memenuhi target produksi itu, paparnya, perseroan menambah total kapasitas tiga unit pabrik di Tuban, Jawa Timur, menjadi 10,5 juta ton per tahun, sementara Semen Tonasa juga melakukan langkah serupa.
Selain penambahan kapasitas produksi, Semen Gresik juga merampungkan pembangunan fasilitas pengantongan di Riau dan memulai proyek sejenis di Sorong, Papua. "Pembangunan packing plant merupakan bagian dari perubahan moda transportasi antarpulau, dimana pengiriman semen dilakukan dalam bentuk curah dan bukan dalam kantong. Dengan demikian, pengangkutannya dengan kapal bisa lebih cepat dan efisien," katanya.
Kerjasama
Dwi mengungkapkan biaya angkutan semen mencapai 12%-14% dari total biaya produksi, mencakup pengiriman melalui transportasi laut maupun darat dengan armada truk. Selama ini, Semen Gresik menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam mengirimkan semen karena mengelola sendiri armada angkutan dinilai tidak efisien. Sebelumnya, Head of Investor Relation Semen Gresik Agung Wiharto mengungkapkan perseroan mengalokasikan US$60 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi pada 2011.
"Dana itu akan digunakan untuk debottlenecking pabrik sehingga bisa menaikkan kapasitas produksi. Untuk sementara, produksi semen berasal dari pabrik eksisting, dan pabrik baru akan beroperasi mulai 2012," ujarnya pekan lalu. Untuk belanja modal selama 2011, perseroan mematok angka US$380 juta. Jumlah tersebut merupakan bagian dari belanja modal yang dialokasikan 2014.
Agung mengatakan belanja modal itu akan digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik, pembangunan pembangkit listrik, dan memenuhi beberapa kebutuhan utnuk ekspansi. Semen Gresik dikabarkan berencana mengakuisisi pabrik semen lain sebagai strategi pertumbuhan anorganik. Selain mengakuisisi pabrik di Malaysia, BUMN semen ini disebut-sebut menjadi nominator pembeli PT. Semen Baturaja (persero).