PT Semen Gresik Tbk hingga tahun 2015 akan menginvestasikan sekitar US$ 700 juta atau setara dengan Rp 6,3 triliun, untuk ekspansi pabrik baru.
”Kebutuhan investasi tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi sebesar 30,5 juta ton per tahun pada 2015, dari sekitar 20 juta ton pada 2011," kata Direktur Utama Semen Gresik Dwi Sutjipto, usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin.
Menurut Dwi, sumber pendanaan investasi tersebut akan diperoleh dari internal maupun dari eksternal perusahaan. "Sebesar 50 persen atau sekitar Rp 4 triliun akan diupayakan dari eksternal," kata Dwi.
Ia melanjutkan, kondisi perusahaan saat ini sangat memungkinkan untuk menarik pinjaman dari perbankan, maupun mencari alternatif pembiayaan lainnya.
Lebih lanjut, dana tersebut akan digunakan untuk membangun dua pabrik baru, yaitu di Sumatera Barat dan di Jawa Tengah. "Pendanaan untuk ke dua pabrik tersebut sebagian sudah termasuk dari investasi pada tahun ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan ekspansi tersebut maka hingga 2015 akan ada penambahan kapasitas produksi baru sebesar 2,5 juta ton dari Jawa, 2,5 juta ton-3 juta ton dari Sumatera Barat, dan selebihnya sekitar 2,5 juta ton dari Tonasa.
Saat ini Semen Gresik menguasai pangsa pasar 43-45%. Pengembangan kapasitas produksi diarahkan untuk menjaga pangsa pasar domestik dan menjaga kapasitas cadangan untuk ekspor.
Pada 2011, perseroan menargetkan laba bersih tumbuh 10-15% meningkat dari perkiraan laba bersih 2010 sebesar Rp 3,63 triliun.
Adapun pertumbuhan laba tahun ini diharapkan terjadi karena adanya peningkatan produksi serta selesainya dua pabrik baru perseroan pada akhir tahun ini di Tuban dan Tonasa yang berkapasitas total 5 juta ton.
Perseroan berharap kapasitas produksi total perseroan mencapai 20 juta ton 2011 dari tahun 2010 sekitar 19 juta ton.
Adapun pendapatan diperkirakan tumbuh sekitar 10% dari perkiraan pendapatan 2010 sebesar Rp 15,4 triliun.
Pertumbuhan pendapatan akan didukung perbaikan produksi. Perseroan baru menyelesaikan "upgrading" sehingga ada tambahan produksi 1,5 juta ton.