Perseroan berencana mengakuisisi satu kuasa pertambangan (KP) batubara berkalori rendah. Dana yang disiapkan sektar Rp 1 triliun.
Akuisisi bertujuan menghemat biaya produksi. Selama ini, biaya pembelian batubara cukup besar sehingga perseroan berupaya menguranginya. Salah satu caranya adalah dengan mengakuisisi KP batubara yang sudah berproduksi. Porsi batubara terhadap biaya produksi sekitar 30%.
Menurut Dwi,perseroan belum memutuskan kapan akuisisi batubara akan dilakukan. Sebab, selama ini perseroan hanya merupakan konsumen batubara, sehingga tidak mudah berekspansi di bisnis ini.
"Dalam mengambil keputusan ini, kami harus berhati-hati agar pengembangan anorganik bisa tepat sasaran. Pengembangan anorganik secara teori mudah, tapi tidak mudah dalam implementasinya," kata dia.
Dwi menerangkan, akuisisi KP batubara sejalan dengan rencana Semen Gresik menambah kapasitas produksi. Tahun ini, kata Dwi, kapasitas produksi mencapai 20,2 juta ton setahun, sementara volume penjualan ditargetkan mencapai 19,5 juta ton.
Semen Gresik merupakan perusahaan gabungan tiga BUMN semen, yakni Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Kapasitas produksi terbesar disumbangkan Semen Gresik sebesar 10 juta ton, disusul Semen Padang 6,1 juta ton dan Semen Tonasa 4,1 juta ton.
Tahun depan, kata Dwi, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 23 juta ton, seiring beroperasinya pabrik di Tuban IV, Jawa Timur, dan Tonasa V, Sulawesi Selatan. Selanjutnya, kata Dwi, kapasitas ditargetkan menembus 30 juta ton pada 2015. Untuk itu, perseroan berencana membangun dua pabrik baru lagi di Sumatera atau Jawa.
"Ekspansi yang terus kami lakukan tentunya membutuhkan tambahan pasokan batubara untuk kelancaran produksi," ujar dia.
Selain memuluskan rencana ekspansi, Dwi menyatakan, akuisisi juga merupakan pengembangan anorganik perseroan secara vertikal. "Kami melakukan ekspansi anorganik baik secara horizontal dalam artian masih dalam core business dan vertical integration, yakni ke arah batubara," jelas dia.
Selama ini, kata Dwi, perseroan sudah menempuh beberapa cara untuk memangkas biaya energi di tengah melambungnya harga batubara. Contohnya, mengonversi penggunaan batubara berkalori tinggi menjadi kalori rendah.
Dia menyatakan, sejak April 2011, perseroan telah mengalihkan seluruh penggunaan batubara di pabrik Tuban, Jawa Timur, menjadi kalori rendah. Pabrik Semen Padang dan Semen Tonasa diharapkan melakukan langkah serupa.
"Sebelum adanya ekspansi anorganik vertikal, kami upayakan agar secara bertahap semua pabrik bisa menggunakan kalori rendah. Jika ada batubara yang kami miliki sendiri, efisiensi biaya tentu lebih maksimal," kata dia.
Tambah 2 Juta Ton
Direktur Keuangan Semen Gresik Ahyanizzaman menambahkan, beroperasinya dua pabrik baru Semen Gresik, yaitu Tuban IV dan Tonasa V, akan membuat kebutuhan batubara meningkat 2 juta ton menjadi 5 juta ton, dibanding tahun ini sebesar 3 juta ton.
Dia mencatat, sekitar 30% batubara yang digunakan berkalori tinggi (hard coking coal), sementara 70% sisanya berkalori rendah dan menengah (medium). Tahun lalu, kata dia, konsumsi batubara perseroan mencapai 2,77 juta ton, turun 1,19% dibanding 2009 sebesar 2,8 juta ton.
Dia menilai, konversi batubara dari kalori tinggi ke rendah akan membuat volume batubara meningkat. Namun, karena harganya lebih rendah, biaya yang diperoleh masih lebih baik.
"Konversi ini akan menambah jumlah kebutuhan pasokan batubara. Namun, tetap ada penghematan 7% karena harga batubara berkalori rendah jauh lebih murah," tegas dia.
Semen Gresik, kata Ahyanizzaman, menargetkan seluruh pabrik menggunakan batubara berkalori rendah pada 2013. "Upaya ekspansi vertikal akan sangat dibutuhkan, sebab secara volume, pasokan batubara yang dibutuhkan akan terus bertambah," jelas Dwi.