Semen Gresik Kaji Kenaikan Harga

Biaya Produksi Naik 10 Persen

PT Semen Gresik Tbk (SMGR) dalam posisi dilematis. Managemen dihadapkan pad pilihan,apakah harus menaikkan harga atau tidak seiring dengan kenaikan biaya produksi. Jika menaikkan harga dihadapkan pada kondisi pasar belum memungkinkan. Sementara jika tidak direalisasikan, laba bersih hanya bisa tumbuh tipis.

Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto mengatakan, cost produksi meningkat cukup besar mencapai 8 sampai 10 persen per ton. Sejak pertengahan tahun perseroan sebenarnya sudah melakukan konversi energy terutama dari penggunaan batu bara high callori menjadi low callori. “Tetapi itu kan baru mulai pertengahan tahun, sedangkan kita mulai di awal tahun yang melonjak banyak,” ungkapnya di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, perseroan sempat menaikkan harga jual sebesar 2 persen sampai 3 persen pada Mei 2011 seiring meningkatnya biaya produksi terutama akibat naiknya biaya energi. Kenaikkan biaya energi diantaranya untuk batu bara naik 20 persen dan listrik naik 30 persen.

Dwi mengatakan, belum ada kajian untuk menaikkan harga jual untuk saat ini karena persaingan pasar yang kuat. SMGR yang menguasai pangsa pasar sebesar 43 persen di pasar domestik merasa harus berhati-hati agar posisi market share tidak tergerus. “Sekarang semua tergantung pasar. Kalau pasarnya tidak bisa dinaikkan ya tidak bisa. Kalau kita naikkan sendiri ya market share hilang. Kita kalau sudah naik kan tidaj mungkin turunkan lagi,” ucapnya di sela Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), kemarin.

Sementara ini yang bisa dilakukan perseroan adalah melakukan efisiensi. Terutama produksi yang harus stabil, penggunaan bahan bakar alternative, dan konversi energi. “Tapi walaupun seperti itu (terjadi kenaikkan biaya produksi) bottom line kita tetap increase antara 5 sampai 10 persen. Margin memang terkoreksi,” paparnya.

Pada kuartal ketiga tahun 2011 ini,laba bersih SMGR memang diproyeksikan hanya tumbuh antar 5 persen sampai 10 persen akibat tingginya biaya produksi itu. Pengumuman akan dilakukan pecan depan. “Penjualan sampai September itu meningkat 9 persen. Dalam negerinya meningkat 10 persen. Revenue meningkan 12 persen. Diatas 10 persen lah pokoknya. Nanti angka tepatnya minggu depan,” akunya.

Pada periode yang sama tahun lalu tercatat pendapatan konsolidasi perseroan pada akhir September sebesar Rp 10,29 triliun. Maka dengan kenaikkan 10 sampai 12 persen pada September tahun ini nilainya mencapai Rp 11,32 triliun sampai Rp 11,52 triliun. Laba bersih yang diperkirakan naik 5 sampai 10 persen menjadi Rp 2,64 triliun sampai Rp 2,77 triliun bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,52 triliun.

Dwi masih meyakini semua target tercapai baik produksi maupun pemasaran. Produksi maupun pemassaran. Produksi saat ini sekitar  14,5 juta ton dan target sampai akhir tahun sebanyak 19,5 juta ton, “Insya Allah itu nanti terlampaui,” terusnya. Pada 2011 ini kapasitas terpasang perseroan sebesar 20 juta ton semen per tahun dengan kebutuhan konsumsi batu bra sebesar 3,5 juta ton.
 

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy