Setiap perusahaan pasti memiliki impian yang ingin dicapai. PT Semen Gresik (Persero) Tbk (SMRG) pun demikian. Perseroan ingin tetap menjadi produsen semen dan menguasai pangsa pasar semen nasional terbesar, dengan ekspansi baru. Bagaimana dengan prospek pergerakan sahamnya?
Semen Gresik didirikan dengan nama NV Pabrik Semen Gresik tanggal 25 Maret 1953. Perusahaan ini kemudian diubah menjadi perusahaan negara (persero) pada 17 April 1961. Terakhir, pemerintah mengubah statusnya lagi menjadi PT Semen Gresik (Persero) 24 Oktober 1969. Total saham perusahaan ini berjumah 5,93 miliar pada 31 Agustus 2010. Sebagai BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga 3,02 miliar (51,01%) sahamnya masih dimiliki oleh pemerintah. Sisanya 2,90 miliar (48,99%) dikuasai oleh pemegang saham lainnya dan masyarakat.
Semen Gresik dan anak perusahaannya menggeluti berbagai kegiatan industri, dengan bisnis utama industri semen. Perseroan mempunyai dua anak perusahaan produsen semen dengan kepemilikan masing-masing 99% saham, yakni PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa. Pabrik semen perseroan berlokasi di Gresik dan Tuban (Jawa Timur), Semen Padang di Indarung (Sumatera Barat), serta Semen Tonasa di Pangkep (Sulawesi Selatan).
Sebagai produsen semen terbesr di Indonesia, perusahaan ini memiliki kapasitas produksi 19 ton semen pada 2009 atau mengontribusi 38,15 % dari kapasitas produksi nasional 49,8 juta ton. Semen Gresik sebagai induk usaha memiliki kapasitas 9 juta ton, serta Semen Padang 5,9 juta ton dan Semen Tonasa 4,1 juta ton.
Kapasitas produksinya masih di atas perusahaan terdaftar di BEI lainnya, yakni PT Indocement Tbk (INTP) 17,1 juta ton dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) 8,5 juta ton. Sedangkan kapasitas produksinya dikuasai, oleh 4 perusahaan semen lainnya. Tahun ini, kapasitas produksi semen nasional diperkirakan naik menjadi 51,7 juta ton.
Perseroan terus ekspansi agar tetap menjadi produsen semen yang terbesar dan teratas dalam industri semen tanah air. Dua pabrik semen tengah dibangun dengan kapasitas 5 jutao ton dengan total investasi US$ 594 juta, yakni Tuban IV dan Tonasa V masing-masing berkapasitas 2,5 juta ton. Kedua pabrik tersebut mulai dibangun 2008 dan akan selesai 2011-2012.
Hingga pertengahan Agustus lalu, pabrik Tonasa sudah tergarap 41,5% dan tuban 31,7%. Perusahaan ini juga tengah membangun pembangkit listrik Tonasa 2x35 MW dengan progress 4,44% pada saat yang sama, dengan investasi US$ 114 juta. Semen Gresik menargetkan kapasitas produksi semennya mencapai 27 juta ton pada 2013. kenaikan dilakukan bertahap, tahun 2010 sebesar 19,5 juta ton, 2011 sebanyak 20,5 juta ton, 2012 sebesar 24 juta ton. Karena itu, perseroan pun merencanakan belanja modal (capita expenditur / capex) mencapai US$ 1,26 miliar dari 2008-2014.
”Sebagian capex untuk menambah kapasitas produksi dan membangun pembangkit listrik tersebut,” ujar Direktur Keuangan Cholil Hasan, dalam presentasinya kepada para fund manager di Singapura dan Tokyo, belum lama ini. Produsen semen diperkirakan menguasai pangsa pasar (market share) terbesar semen nasional sekitar 43%. Perseroan memiliki 1 pabrik pengepakan semen besar dari jaringan di seluruh Indonesia. 4 pelabuhan laut Padang, Tuban, Gresik, dan Biringkassi mendukung distribusi dan pemasarannya.
Sementara itu, data Asosiasi Semen Indonesia menyebutkan, volume penjualan semen domestik tahun 2010 hingga kuartal III tumbuh 7,2% menjadi 29,5 juta ton dari sebelumnya 27,19 juta ton. Khusus Semen Gresik telah menjual 12,69 juta ton ataou tumbuh 2,4% dari periode sebelumnya tahun 2009. jika utilisasi kapasitas pabrik tiga sprodusen semen terbuka baru mencapai 78%, Semen Gresik telah berjalan mencapai 91% atau yang tertinggi.
Kinerja Keuangan
Sementara itu, Cholil memperkirakan, pencapaian pendapatan dan laba bersih pada akhir kuartal III-2010 lebih rendah dibandingakan dengan periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir September lalu, laba bersih Semen Gresik diperkirakan Rp 2 triliun dengan pendapatan diatas Rp 9 triliun. Pada akhir kuartal III-2009, Semen Gresik mencetak pendapatan Rp 10,40 triliun, laba usaha Rp 3,06 triliun, dan laba bersih Rp 2,41 triliun.
Harga semen yang cenderung datar dari akhir tahun lalu hingga akhir September turut mempengaruhi pendapatan perseroan tahun ini. harga jual rata-rata produk Semen Gresik mencapai Rp 750.000 per ton. Perseroan menargetkan pendapatan dan laba bersih 7-8% tahun 2010 dari tahun 2009.
Sementara itu, tahun ini hingga semester I-2010, pendapatan bersih perseroan turun 1,6% menjadi Rp 6,66 triliun dari periode sama 2009 sebesar Rp 6,76 triliun. Namun, Semen Gresik mampu mencetak laba bersih Rp 1,62 triliun, naik 7,5% dari sebelumnya Rp 1,51 triliun. Hal tersebut ditopang kemampuan beban biaya. Karena itu, earning pershare (EPS) pun naik 6,3% menjadi Rp 274.
Semen Gresik memiliki pertumbuhan tahunan yang meyakinkan dari tahun 2005-2009. pendapatan Semen Gresik rata-rata tumbuh 18% per tahun, EBITDA naik 24%, laba bersih meningkat 35%, total aset bertumbuh 15%, dan total ekuitas naik 23%. Pendapatannya akhir 2009 sudah mencapai Rp 4,777 triliun, dan laba bersih mencapai Rp 3,32 triliun.
Indikator keuangan lainnya juga cukup meyakinkan. Dalam periode 2005-2009, kas dan setara kas perseroan naik rata-rata 39% per tahun dengan jumlah akhir 2009 sebesar Rp 5,28 triliun. Sedangkan rasio pengembalian investasi terhadap asetnya juga terus meningkat dari tahun 2005 masih 13,7% menjadi 25,7% akhir 2009. Sebaliknya, utangnya terus turun rata-rata 35% dengan jumlah akhir tahun lalu Rp 151 miliar dari 2005 sebesar Rp 854 miliar. Seiring dengan itu rasio utang terhadap EBITDA juga turun dari 2005 masih 0,40 kali menjadi 0,03 kali akhir 2009.
Semen Gresik juga memberikan dividend yield yang lebih besar dibandingkan emiten lainnya. Perusahaan ini memberikan dividend yield 2,5% tahun 2005 dan naik menjadi 4,1% tahun lalu. Persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Indocement yang 1,1% dan Holcim bahkan tidak membayar dividen 2009.
Tinjauan Saham
Analis Deutsche Bank Verdana Rachman Koeswanto memasang target harga SMGR Rp 12.000 dan merekomendasi buy. Penentuan harga dengan menggunakan metode discounted cash flow (DCF) 10 tahun, WACC sebesar 14,3%, dan pertumbuhan sebesar 5%. ”WACC ditentukan dari tingkat bebas risiko 10,8%; premi risiko ekuitas 5,3%; biaya hutang 8,3%; ekuitas terhadap modal usaha 78,4%; dan beta 0,98,” kata dia, dalam risetnya 15 Oktober 2010.
Harga tersebut telah memperhitungkan tingkat pertumbuhan laba Semen Gresik untuk jangka panjang. Sedangkan risiko investasi meliputi ketidakmampuan menaikkan harga semen akibat kenaikan biaya energi, ketika biaya energi menyumbang sekitar 36% dari total biaya produksi. Selain itu, kegagalan meningkatkan sinergi usaha juga bisa menghambat perolehan pendapatan dan profitabilitas yang lebih tinggi.
Sedangkan analis CIMB Securities Lydia Toisuta menetapkan target SMGR pada level harga Rp 11.650. namun, dia hanya merekomendasi netral saham SMGR. SMGR ditutup melemah Rp 100 (1,01%) menjadi Rp 9.850 pada perdagangan Rabu (20/10), dengan volume transaksi 6,04 juta unit. Harga sahamnya sempat mencapai level tertinggi Rp 9.950 pada hari yang sama, dengan posisi terendah Rp 9.800.