BUMN produsen semen, PT Semen Gresik Tbk, memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual semen hingga akhir tahun ini meski ongkos produksi telah meningkat 5% hingga 10% ketimbang tahun lalu.
Langkah itu diambil karena perseroan menilai tidak memungkinkan menaikkan harga jual semen di tengah persaingan pasar yang sangat ketat. Hal itu diungkapkan Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto di sela rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, kemarin. “ kami tidak mungkin menaikkan harga jual karena pengaruhnya nanti tentu kepersaingan pasar. Kalau harga kami naik dan pesaing kami tidak merespons, akan repot,” ujar Dwi.
Dengan keadaan ini, lanjutnya, margin keuntungan perusahaan akan terkena imbas untuk menutupi tingginya ongkos produksi semen tersebut. Saai ini, Semen Gresik menguasai 43% pasar semen di Tanah Air. Meski begitu, kata Dwi, pihaknya tidak mau gegabah untuk menaikka n harga lantaran belum ada jaminan competitor akan ikut menaikkan harga.
“Walaupun pangsa pasar kami mencapai 43%, belum tentu pesaing menaikkan harga. Lebih aman bagi kami memangkas margin keuntungan dan melakukan sejumlah efisiensi,” tambahnya.
Upaya efisiensi yang dilakukan perusahaan diantaranya memaksimalkan kapasitas produksi, efisiensi bahan bakar, dan sinergi antar pabrik. Namun, upaya menahan harga jual tersebut dalam jangka panjang sangat berpotensi menguras kas internal perusahaan.
“Karena harga enggak naik, tinggal lihat saja sampai kapan pelaku industry akan bertahan. Ke depan yang bisa survive saya yakin adalah pemain-pemain yang kekuatan dananya besar. Kalau kami tidak masalah. Kas perusahaan masih ada sekitar Rp 4 triliun lebih, jadi aman,” ungkapnya.
Hingga September 2011, perseroan mencatatkan produksi semen sebanyak 14,5 juta ton atau 74,35% dari target yang ditetapkan untuk tahun ini sebesar 19,5 juta ton. Menurut Dwi, perseroan optimis dapat mencapai target tersebut. “Perseroan optomistis target yang ditetapkan dapat dipenuhi meski tahun ini hanya tersisa dua bulan,” ucapnya.
Sepanjang semester pertama tahun ini, pendapatan perseroan Rp 7,60 triliun bertumbuh 14,11% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 6,66 triliun.
Seiring dengan kenaikan pendapatan, perseroan membukukan laba bersih Rp 1,89 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih perseroan hanya Rp 1,62 triliun. Adapun laba persaham meningkat per saham meningkat dari Rp 274 per saham menjadi Rp 316 per saham.
Pabrik baru
Lebih lanjut Dwi mengatakan, untuk menopang kinerja perseroan ke depan, saat ini Semen Gresik telah menyiapkan penyelesaian tahap akhir pembangunan dua pabrik semen baru di Tonasa, Sulawesi Selatan, dan Tuban, Jawa Timur.
Pembangunan pabrik di Tonasa ditargetkan tuntas akhir 2011 dan pabrik di Tuban selesai pada awal 2012. Kedua pabrik baru tersebut berkapasitas produksi masing-masing 2,5 juta ton. Untuk mendukung beroperasinya pabrik semen di Tonasa, terangnya, perseroan akan menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik yang diperkirakan tuntas pada akhir 2012.