Kinerja keuangan PT Semen Gresik Tbk (SMGR) semakin kokoh menyusul diversifikasi penggunaan energi, efisiensi beban usaha, dan penurunan beban bunga. Tahun ini, kinerja BUMN semen tersebut diprediksi terus menanjak. Lalu, apakah harga sahamnya otomatis ikut terdongkrak ?
Semen Gresik kini memiliki tiga kekuatan besar yang mampu menopang kinerja perusahaan. Semen Gresik memiliki kapasitas produksi terbesar, pangsa pasar yang luas, dan kuatnya margin keuangan. Margin laba kotor, laba usaha, dan laba bersih perseroan terus meningkat sepanjang 2005-2009. “Diversifikasi penggunaan energi dalam proses produksi, efisiensi beban usaha, serta penurunan beban bunga akibat penurunan jumlah utang menjadi alasan di balik penguatan margin tersebut,” ungkap Gifar Indra Sakti, analis PT Sucorinvest Central Gani, dalam risetnya, belum lama ini.
Sucorinvest mencatat, margin laba kotor Semen Gresik pada 2005 hanya sekitar 38,4%, sedangkan tahun lalu meningkat menjadi 47,1%. Margin laba usaha naik dari 20,8% menjadi 30,2% dan margin laba bersih melonjak dari 13,6% menjadi 23,1%. Sementara itu, PT Valbury Asia Securities melaporkan, margin laba kotor Semen Gresik per kuartal I-2009 meningkat menjadi 47,5% dibandingkan periode sama 2009 sebesar 42,7%. Sedangkan margin laba usaha naik dari 26,8% menjadi 31,2% dan margin laba bersih meningkat dari 21,1% manjadi 24,7%.
Hingga kuartal I-2010 pendapatan produsen semen terbesar di Tanah Air itu mencapai Rp 3,24 triliun, naik tipis 0,6% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,22 triliun. Laba kotor meningkat 11,9% dari Rp 1,37 triliun menjadi Rp 1,54 triliun. Laba bersih melonjak 17,8% dari Rp 681 miliar menjadi Rp 802 miliar. Semen Gresik kini memiliki fasilitas produksi semen dengan total kapasitas sebanyak 18 juta ton per tahun. Kapasitas produksi Semen Gresik sendiri mencapai 8,6 juta ton per tahun. Sisanya dikontribusi dari dua anak usaha yakni PT Semen Padang dengan kapasitas produksi 5,9 juta ton semen dan PT Semen Tonasa 3,5 juta ton. Selain itu, untuk mendukung pemasaran produk, Grup Semen Gresik memiliki 30 gudang penyangga yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia.
Sementara itu, analis PT Waterfront Securities Isfhan Helmy Arsad mengatakan, rencana Semen Gresik membangun pabrik pembuat kemasan semen menjadi terobosan baru bagi perseroan. “Kinerja perusahaan bakal semakin bagus, margin laba bersih naik, karena produksi kemasan itu bias meningkatkan efisiensi,” kata dia. Meski demikian, perseroan memiliki kelemahan menyusul hampir maksimalnya tingkat utilisasi produksi. Per Desember 2009, total utilisasi fasilitas produksi SMGR mencapai 93,5% atau paling tinggi dibandingkan emiten semen lain yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi tersebut mengakibatkan perseroan tidak bisa mengantisipasi lonjakan permintaan semen dengan cepat.
Tahun ini, konsumsi semen nasional diperkirakan tumbuh 6% atau mencapai 40 juta ton. Pemerintah berencana membangun proyek-proyek infrastruktur potensial senilai US$ 472,979 miliar. Jika proyek tersebut dapat direalisasikan, sektor semen menjadi salah satu sektor yang akan diuntungkan. Hingga akhir 2009, Semen Gresik menguasai 40,9% pasar semen nasional. Volume penjualan terbesar berasal dari Pulau Jawa dan Sumatera, dengan kontribusi masing-masing 48% dan 23,4% terhadap total volume penjualan. Meski demikian, ekspansi pasar Semen Gresik dibatasi oleh Undang-Undang Anti Monopoli. Dengan demikian, ruang untuk peningkatan pangsa pasar menjadi terbatas.
Namun, Semen Gresik tidak kalah strategi. Perseroan akan memperluas pasarnya ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Semen Gresik menjajaki akuisisi Cement Industries of Malaysia Bhd (CIMA), yang menguasai 18% pasar semen di Malaysia. Semen Gresik menargetkan tambahan produksi sekitar 2-3 juta ton per tahun dari hasil akuisisi. Perseroan menyiapkan dana hingga US$ 338 juta.
Prospek Saham
Analisis Valbury Asia Securities Budi Rustanto menilai, saham Semen Gresik dengan kode SMGR merupakan salah satu pilihan yang cukup menarik. Pasalnya, kinerja perseroan hingga kuartal I-2010 cukup baik. Selain itu, Semen Gresik terus melakukan ekspansi strategis, seiring meningkatnya permintaan semen di dalam negeri. Dengan mengasumsikan tingkat pertumbuhan pendapatan sekitar 10 % pada tahun-tahun mendatang, maka target harga SMGR dengan menggunakan arus kas terdiskon (discounted cash flow/DCF) sebesar Rp. 9,500. Pada perdagangan kemarin, SMGR ditutup naik Rp. 50 (0,5%) ke posisi Rp. 8,850. Karena itu, Valbury merekomendasikan buy SMGR.
Sementara itu, analis PT. Sucorinvest Central Gani Gifar Indra Sakti memasang target harga SMGR Rp. 9,800. Selain menggunakan metode DCF, perusahaan efek itu memasukkan asumsi premi risiko Negara Indonesia sebesar 4%, cost of equity sebesar 15,4% dalam menghitung nilai wajar SMGR. Tahun ini, saham Semen Gresik itu diperdagangkan dengan price to earning ratio (PER) 13,3 kali, sedangkan PER2011 sekitar 12,3 kali. Sucorinvest juga merekomendasikan buy SMGR.