Manajemen PT Semen Gresik (SG) Tbk, masih mengkaji lagi soal merger dengan Semen Kupang NTT yang sempat tidak beroperasi pada 2008 akibat kolaps. Dirut PT Semen Gresik Tbk, Dwi Soetjipto menyatakan soal merger antara Semen Gresik dan Semen Kupang perlu ada kajian yang lebih dalam baik itu hitungan bisnis maupun untuk pengembangan usaha.
Menurut Dwi Soetjipto, secara bisnis sebetulnya keberadaan Semen Kupang sangat strategis. Terlebih lagi, manajemen Semen Group sangat getol mengembangkan usahanya di Indonesia Timur. "Kebutuhan semen dalam negeri terus meningkat bahkan pada 2014 pertumbuhannya bisa mencapai sekitar 6-7 persen," paparnya.
Dijelaskan Dwi Soetjipto, persoalan merger maupun akuisisi memang tidak mudah. Sebab, sebelum dilakukan merger bukan hanya aset Semen Kupang saja yang dilihat. Namun, semua aspek yang meliputi kinerjanya juga mendapat prioritas utama dikaji lebih mendalam.
"Saya melihat Semen Kupang tidak bisa berkembang lagi karena prospek bisnisnya kurang bagus mengingat pasar semen di daerah itu tidak terlalu banyak," paparnya.
Disinggung mengenai jika SG bersedia mengakuisisi Semen Kupang. Dituturkan Dwi Soetjipto, kalau memang ditakdirkan pihaknya akan memperbaiki semua aspek manajemen Semen Kupang.
"Saya kira untuk kebutuhannya disana tidak ada masalah hanya pasarnya saja yang perlu dipertajam," ujarnya. Selain itu lanjut Dwi Soetjipto, Semen Kupang perlu di-rekstrukturisasi baik itu menyangkut bahan baku dan lain-lain.
Intinya, semua aspek yang di dalam Semen Kupang dilihat dulu sebelum diakuisisi. "Kalau mau menghidupkan lagi Semen Kupang semua harus dikaji satu per satu kendati untuk bahan bakunya masih mencukupi," pungkasnya.
Diakui Dwi Soetjipto, sebetulnya memaksimalkan pabrik semen di Indonesia Timur sangat strategis. Pasalnya, saat ini terjadi pergeseran permintaan terhadap semen dari semula 60 persen di Pulau Jawa, kini 20 persen lebih berada di Indonesia Timur.