Laba seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama semester I-2010 sebesar Rp45,3 triliun atau naik 18,26 persen dibanding semester I-2009 sebesar Rp38,3 triliun.
Menurut Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, keuntungan itu berasal dari berbagai macam sektor yaitu sektor perbankan tumbuh 36,29 persen dari Rp7,8 triliun di semester I-2010 menjadi Rp10,7 triliun.
Penyumbang laba dengan jumlah besar berasal dari sektor pertambangan yang tumbuh 49,89 persen, dari Rp1,85 triliun menjadi Rp2,78 triliun. Sedangkan sektor telekomunikasi turun 1,3 persen, dari Rp6,03 triliun menjadi Rp5,9 triliun. Untuk sektor BUMN Energi tumbuh 27,37 persen dari Rp15,1 triliun menjadi Rp19,2 triliun.
Sektor asuransi tumbuh 20,44 persen dari Rp2,5 triliun menjadi Rp3,03 triliun. Sektor penunjang pertanian, seperti perusahaan pupuk pelat merah turun 23 persen dari Rp1,8 triliun menjadi Rp1,3 triliun.
Hal itu disebabkan turunnya keuntungan perusahaan pupuk akibat stok dan larangan ekspor "Daya serapnya hanya 70 persen" ujar Said.
Berbeda dari perusahaan penunjang pertanian yang kinerjanya turun, sektor perkebunan justru menjulang kinerjanya. Tercatat sektor ini meningkat 16 kali lipat atau 1.600 persen, dari rugi Rp21 miliar pada semester I-2009 menjadi laba Rp397,4 miliar. Hal ini disebabkan harga komoditas yang naik. "Produksinya juga bagus," kata Said.
Sektor sarana angkutan turun 56 persen dari Rp702,8 miliar menjadi Rp307,9 miliar. Sektor Jasa Konstruksi tumbuh 8,9 persen, dari Rp213,2 miliar menjadi Rp232,2 miliar. Sektor pembiayaan, tumbuh 53,35 persen, dari Rp554,4 miliar menjadi Rp850,2 miliar.
Untuk sektor industri strategis tumbuh 176 persen, dari rugi Rp1,09 triliun menjadi laba Rp838 miliar.
Dari keseluruhan BUMN, kontribusi laba paling banyak disumbang PT Pertamina, di susul PT Perusahaan Listrik Negara, PT Telkom Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Pusri, dan PT Krakatau Steel.