KINERJA positif sektor properti membuat PT Semen Gresik Tbk (SMGR) berani mematok kenaikan laba bersih 10 persen pada 2011. Pada 2010, perusahaan semen BUMN itu membukukan laba bersih Rp 3,63 triliun dan setengah dibagikan dalam bentuk dividen tunai.
Direktur Utama SMGR Dwi Soetjipto mengatakan, kenaikan harga property, baik tanah maupun bangunan, pada awal tahun ini berimbas kepada industri semen. Proyek properti pun berkembang signifikan. ’’Terjadi kenaikan demand sekitar 15 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kita lihat sampai akhir tahun kenaikannya seberapa besar,’’ ungkapnya setelah RUPST di Ritz-Carlton, Jakarta, kemarin.
Hasil RUPST menyepakati pembagian dividen Rp 306 per lembar saham atau senilai Rp 1,82 triliun setara dengan 50 persen dari laba 2010 sebesar Rp 3,63 triliun. Adapun Rp 1,68 triliun lainnya dialokasikan sebagai cadangan untuk pengembangan usaha.
Pada awal tahun lalu, lanjut dia, terjadi kenaikan 16 persen. Namun, setelah setahun penuh, kenaikannya hanya 6 persen. Tahun ini diperkirakan terjadi kenaikan 7–8 persen. Tahun ini emiten dengan kode perdagangan SMGR itu optimistis tumbuh 10 persen setelah ada efisiensi bahan baku, terutama pergantian penggunaan batu bara berkalori tinggi ke berkalori rendah. Selain itu, de-bottlenecking project yang dilakukan sejak tahun lalu sudah selesai.
Pelaksanaan de-bottlenecking di Semen Gresik menjadi salah satu penyebab pendapatan tahun lalu nyaris sama dengan 2009, selain disebabkan volume penjualan perseroan turun 2,8 persen. Penurunan penjualan juga disebabkan terhambatnya kegiatan produksi, antara lain karena masih ada pengaruh gempa di Padang, Sumatera Barat, sehingga produksi dari pabrik Semen Padang sebagai anak usaha tidak maksimal.
Kenaikan pendapatan perseroan tahun ini akan ditopang harga jual rata-rata yang meningkat 2 persen menjadi Rp 750 ribu per ton. ’’Produksi kami tahun ini dengan selesainya pabrik baru meningkat menjadi 24–25 juta ton,’’ ujarnya. Pada 2010, kapasitas produksi SMGR tercatat 19 juta ton yang berasal dari pabrik Semen Padang 5,9 juta ton, pabrik di Gresik 9 juta ton, dan pabrik di Tonasa 4,1 juta ton. Pangsa perseroan tahun lalu di pasar domestik tercatat 43 persen.
Direktur Keuangan SMGR Ahyanizzaman mengatakan, pihaknya menganggarkan belanja modal (capex) Rp 5 triliun untuk penyelesaian beberapa proyek investasi pabrik. Selain dari kas internal, SMGR kembali mencairkan fasilitas dana pinjaman yang sudah tersedia dari sindikasi Bank Mandiri Rp 3,166 triliun. Tahun lalu dana itu dicairkan Rp 600 miliar dan tahun ini kemungkinan adalah Rp 900 miliar hingga Rp 1 triliun.