Siapkan Ekspansi, Sale Semen Gresik Turun

KINERJA penjualan PT Semen Gresik Tbk (PT SG) pada tahun ini kurang menggenbirakan. Hingga Oktober 2010, perusahaan semen plat merah itu membukukan penjualan domestik sebesar 14,37 juta ton, tumbuh negatif 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14,61 juta ton. Padahal, penjualan semen secara nasional tumbuh 5,4% menjadi 33,34 juta ton.

Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto mengakui turunnya kinerja penjualan perseroan. Tahun ini perseroan memang mengalami keterbatasan produksi. “Ada dua penyebabnya. Pertama, produksi Semen padang terganggu karena ada gempa. Kedua, kami menghentikan aktivitas sejumlah peralatan pabrik karena akan ada penyambungan ke alat-alat baru yang masuk program ekspansi pabrik untuk peningkatan kapasitas produksi di masa depan,” ujar Dwi saat ditemui di sela-sela Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Gramedia Expo, Surabaya, Jumat (19/11/2010).
 
Dwi mengatakan, untuk penyambungan atau up-grade peralatan itu baru akan dinikmati hasilnya pada tahun depan. Artinya, produksi perseroan akan mulai terkatrol pada tahun-tahun mendatang setelah semua alat untuk memacu produksi beroperasi.
 
Perseroan, kata Dwi, memang tengah berekspansi besar-besaran untuk memacu kapasitas produksi. Kapasitas produksi SMGR tahun depan bakal ditingkatkan menjadi 20,5 juta ton dari posisi tahun ini sebesar 19,5 juta ton. Pada 2012 ditargetkan menjadi 24 juta ton dan 2013 menjadi 27 juta ton.
 
“Dalam aktivitas pabrik, saat produktivitas akan melaju, sangat wajar jika ada guncangan. Kalau mau pertumbuhan besar, wajar ada sedikit penurunan karena ada pemasangan, penyambungan alat, dan aktivitas lain yang menunjang ekspansi. Sebagai perbandingan, hal yang sama juga dialami PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (produsen semen terbesar kedua di Indonesia, Red) pada tahun 2006 ketika mereka merencanakan menggenjot kapasitas produksi,” jelasnya.
 
Turunnya penjualan tersebut berakses pada pendapatan SMGR. Per kuartal III/2010, pendapatan Semen Gresik turun 1,1% menjadi Rp10,29 triliun. Meski penjualan menurun, kata Dwi, perseroan tetap menjaga profitabilitas dengan melakukan serangkaian efisiensi. Cost of revenue perseroan berhasil ditekan sebesar 5,1% dari Rp5,64 triliun menjadi Rp5,35 triliun. Sehingga, laba bersih perseroan masih terangkat 4,75 dari Rp2,408 triliun pada kuartal III/2009 menjadi Rp2,522 triliun pada kuartal III/2010.
 
Dwi mengatakan, perseroan terus mengelola dan mengefisienkan biaya tetap dan biaya variabel dalam berproduksi untuk menjaga agar profit bisa tetap tumbuh di tengan penurunan volume penjualan.
 
“Kami melakukan efisiensi, termasuk dari sisi energi. Ini akan kami lakukan secara berkelanjutan. Tahun ini penggunaan batu bara yang high calory sudah turun jadi 35%, sisanya medium. Tahun depan kami terus kurangi hingga suatu saat 100% bisa low calory,” tuturnya.
Arus Kas
 
Direktur Keuangan PT SG, Cholil Hasan menambahkan, turunnya kinerja penjualan tidak akan sampai mengganggu arus kas perseroan. Hingga September 2010, kas dan setara kas yang dimiliki perseroan masih mencapai sekitar Rp3,5 triliun. SMGR selalu menyisihkan 10% dari total revenue setiap tahun untuk saldo. Adapun ekuitas perseroan mencapai Rp11,181 triliun.
 
“Secara umum, meski volume penjualan turun, kita tetap bisa meng-generate kas. Kita tetap bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekspansi. Misalnya, untuk pembangunan pabrik Tuban yang sepenuhnya dari kas internal kami, tidak ada pinjaman eksternal,” jelasnya. kbc5 Siapkan Ekspansi, Sale Semen Gresik Turun

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy