Rajawali corporation melalui anak usahanya, Blue Valley, yang memiliki 1,476 miliar (24,9%) saham Semen Gresik (SMGR) pada akhir Maret lalu melepas 23,65 % sahamnya kepada investor strategis seharga Rp 7.000 per saham dengan total nilai divestasi Rp 9,821 triliun.
Aksi korporasi Grup Rajawali ini sontak mengejutkan investor publik. Sebab, masuknya Grup Rajawali di Semen Gresik sejak 2006 dengan mengakuisisi saham Cemex berhasil meningkatkan kinerja BUMN semen tersebut. Dalam tiga tahun, laba bersih Semen Gresik tumbuh dua kali lipat dari Rp 1,7 triliun menjadi Rp 3,3 triliun. Tahun ini, laba bersih Semen Gresik diproyeksikan tumbuh minimal 10% dan volume penjualan tumbuh 19% dengan kapasitas produksi 19,5 juta ton atau naik 500 ribu ton dibanding tahun lalu 19 juta ton. Adapun hingga triwulan I-2010, laba bersih Semen Gresik tumbuh sekitar 17,81% menjadi Rp 802,48 miliar dibanding periode sama 2009 sebesar Rp 681,12 miliar.
Bagaimana kinerja Semen Gresik setelah Grup Rajawali hengkang?
“Keluarnya Grup Rajawali tidak akan memengaruhi rencana bisnis Semen Gresik. Siapa pun pemegang sahamnya, perseroan akan terus berekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi” ujar Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk Dwi Soetjipto kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan di Gresik, Jawa Timur, baru-baru ini. Berikut petikan lengkapnya.
Kenapa Anda begitu optimistis Semen Gresik akan tetap berkinerja bagus tanpa Grup Rajawali?
Manajemen telah mendudukkan sistem yang masuk dalam blue print untuk 20 tahun ke depan. Di dalamnya juga telah digariskan strategi pengembangan pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 2014, termasuk rencana mengambil alih perusahaan semen.
Sistem yang telah dibangun itu membuat kami yakin semua rencana ekspansi tetap berjalan. Lagipula, keluarnya Grup Rajawali dari Semen Gresik juga disikapi positif oleh pemegang saham publik. Itu tercermin pada naiknya harga saham pada hari berikutnya setelah divestasi sahamnya terekspos.
Apa kontribusi Grup Rajawali terhadap Semen Gresik?
Sebagai investor finansial, Grup Rajawali maunya perseroan mencetak laba sebanyak mungkin. Itu bagus karena bisa memacu kinerja keuangan. Grup Rajawali juga kuat di pemasaran. Itu bagus bagi pengembangan jaringan distribusi. Masuknya Grup Rajawali dengan mengakuisisi 24,9% saham Cemex Asia Holdings Ltd pada 2006 juga turut andil mengurai benang kusut Semen Gresik akibat konflik berkepanjangan bernuansa sosial politik. Isu nasionalisme mulai pudar sejak pengambilalihan kepemilikan asing itu. Saat kepemilikan asing belum diambil alih Grup Rajawali, permasalahan yang muncul tidak saja terkait dengan aspek ekonomi, tapi juga politis.
Perubahan kepemilikan dari Cemex kepada Grup Rajawali pun membawa iklim kerja yang berbeda. Jika dulu unsur primordialisme cukup kuat maka pada saat Grup Rajawali masuk, primordialisme tidak lagi kental karena sama-sama “made in Indonesia”. Masuknya Grup Rajawali juga tidak diikuti demonstrasi dan protes ketidakpuasan seperti saat Cemex masuk.
Bagaimana prospek dan tantangan ke depan?
Prospek ke depan masih cukup bagus karena permintaan semen masih dari segmen rumahtangga. Sedangkan permintaan untuk mendukung infrastruktur belum maksimal. Hingga kini, pasar semen nasional baru 41 juta ton dengan kapsitas produksi 52 juta ton per tahun. Utilisasi industri semen nasional mencapai 90-95% atau setara 47 ton per tahun. Saat ini pasokan semen masih cukup memadai. Namun, ke depan permintaan cukup besar dan itu bisa menjadi kendala serius, terutama setelah lewat 20 tahun ke depan ketika permintaan semen tinggi tapi kapasitas produksi tidak memadai. Kendalanya adalah kenaikan harga energi dan tarif listrik. Biaya energi di Semen Gresik mencapai 30-40% lebih, sehingga faktor kenaikan harga energi sangat memengaruhi kinerja perseroan.
Strategi apa yang disiapkan Semen Gresik?
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan semen pada masa mendatang,kami mulai menggenjot pembangunan pabrik baru guna meningkatkan kapasitas produksi hingga 25 juta ton. Hingga 2014, kami mengalokasikan belanja modal Rp 12 triliun. Manajemen juga terus menyelesaikan dua proyek pabrik baru, yaitu pabrik Semen Gresik IV di Tuban, Jawa Timur berkapasitas 2,5 juta ton per tahun dengan investasi Rp 3,5 triliun yang akan dioperasikan pada 2012 dan pabrik baru di Tonasa, Sulawesi Selatan dengan kapasitas dan biaya sama. Dua pabrik baru ini akan menambah total kapasitas produksi Semen Gresik Group, yaitu Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa pada 2012 menjadi 25 juta ton dibanding sekarang 20 juta ton pertahun. Total kapasitas ini diharapkan bisa menutupi shortage pasokan semen dalam negeri sebesar 7 % per tahun. Sejalan dengan itu, kami mengagendakan pertumbuhan anargonik dengan rencana mengakuisisi Semen Baturaja serta pertumbuhan organic lewat pengembangan sistem distribusi diluar Jawa seperti di Papua.
Bagaimana dengan rencana pembangunan pabrik baru di Pati?
Proyek pembangunan di Pati, Jawa Tengah tidak berjalan mulus karena ada permasalahan pembebasan lahan. Tapi kami terus memantau proses negoisasi dengan kelompok masyarakat. Prinsipnya, urusan perizinan tidak masalah, dari Gubernur, Bupati, sampai DPRDnya. Tapi, negoisasi dengan sejumlah kelompok masyarakat masih buntu. Pabrik yang direncanakan berkapasitas 2,5 juta ton per tahun dengan investasi US$ 413 juta ini juga untuk mengantisipasi lonjakan permintaan semen ke depan.
Soal kendala bahan bakar ?
Kebutuhan energi pascakrisis global trennya naik dan ini bisa memicu kenaikan harga energi seperti minyak dan komoditas komplementernya. Kami akan terus memperbesar penggunaan energi alternatif seperti limbah dari berbagai industri yang dirintis sejak 2007. dalam tiga tahun kedepan, kami targetkan komposisi energi alternatif yang kini 1 – 2 % meningkat jadi 5 – 10 % dari total kebutuhan energi. Itu sudah sangat membantu perseoan dalam mengurangai biaya energi. Dalam setahun, perseroan menghabiskan 1,2 juta ton batubara untuk produksi semen sebanyak 9 ton.
Apa strategi Semen Gresik untuk menguasai pasar ?
Kuncinya adalah sinergi tiga perusahaan Semen Gresik Group (SGG), yaitu Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Sinergi itu telah membuahkan hasil dan mampu meningkatkan kinerja perseroan seperti sekarang. Sinergi ini juga memacu efisiensi yang memang diperlukan industri semen. Untuk menyinergikan ketiga perusahaan itu butuh proses yang tidak gampag.
Proses sinergi tiu pula yang memberi inspirasi pada riset Anda untuk meraih gelar doctor?
Betul,penggabungan tiga perusahaan ini sejak awal menarik perhatian saya. Bagaimanapun, penggabungan itu berimplikasi pada perubahan strategi korporasi serta tuntutan adaptasi sumber daya dan kapabilitas internal perusahaan. Proses penggabungan juga menciptakan perubahan mendasar pada para anggota perusahaan baru yang memerlukan perintisan perilaku strategis baru untuk mendukung penciptaan nilai lebih, baik bagi pelanggan, maupun bagi keunggulan dalam persaingan.
Sebelum sinergi, perseroan tidak berjalan baik dan masih dibayangi disintregrasi yang menggerus kinerja perseroan. Namun, dalam lima tahun terakhir proses sinergi antara Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa mulai menemukan bentuknya, sehingga mampu meningkatkan kinerja perseroan secara berkesinambungan. Pengalaman dan penelitian saya ini bisa menjadi acuan maupun referensi bagi pihak internal perseroan maupun pihak eksternal yang menghadapi masalah serupa.
Bagaimana dengan rencana pembentukan holding semen oleh pemerintah ?
Sejak awal, rencana holding semen bisa direalisasikan jika solusi pajak holding bisa dicarikan jalan keluar. Sebab, pajak yang dikenakan dalam proses restrukturisasi asset untuk membentuk anak peusahaan cukup besar, bisa lebih dari Rp 3 triliun, itu berat. Apakah 49 % pemegang saham public mau membayar pajak yang setara dengan laba perseroan satu atau bahkan dua tahun ? karena itu, perlu insentif pajak dari pemerintah.
Atau kalaupun ada nilainya yang wajar saja, sehingga manfaat restrukturisasi bisa segera terasa tidak harus mengganggu dua atau tiga tahun.
Soal rencana pembentukan holding ini, sebenarnya Semen Gresik sudah bertindak sebagai lead holding sekaligus operating company, meski skema holdingnya bukan investment holding seperti yang diinginkan kementrian BUMN. Semen Gresik sudah membentuk berbagai divisi dengan sejumlah fungsi strategis. Kalau nanti rencana itu terealisasi, tinggal disahkan secara formal saja.