Sistem Jelas, Hasil Jelas

 
Tahun ini sudah ketiga kalinya SG mengikuti ajang Indonesian Quality Award (IQA), sebuah model manajemen perusahaan yang diadobsi dari Malcolm Baldrige dengan penyesuaian kondisi lingkungan bisnis di Indonesia.
 
Bagi sebuah perusahaan menciptakan mutu yang baik merupakan suatu bagian dari aktivitas penting dan hasil akhirnya adalah hubungan pegawai yang lebih baik, produktivitas yang tinggi,
kepuasan pelanggan yang maksimal, meningkatkan pangsa pasar dan ujung-ujungnya adalah peningkatan keuntungan perusahaan. 
 
Paparan hasil assessmen dibacakan oleh Iman Sudiarto Ketua Tim Assessor dari IQA 2009, pada acara closing meeting assessment IQA 2009 di lantai 10 (6/11) yang dihadiri Direktur Produksi Suparni, Divisi PP dan beberapa perwakilan unit kerja terkait.
 
Program award ini berfokus pada mutu sebagai suatu bagian integral dari praktik manajemen mutu sehari-hari sebuah perusahaan. Adapun kriteria IQA meliputi : Kepemimpinan, Perencanaan Strategis; Fokus pada pelanggan dan pasar; Manajemen pengetahuan, analisis, dan pengukuran; Fokus pada sumber daya manusia; Manajemen proses; Hasil Bisnis. 
 
Setidaknya kriteria assessmen dari IQA ini bisa menjadi standar untuk quality excellence kinerja perusahaan.  Standar tersebut didisain untuk membantu perusahaan dalam menjalankan peningkatan mutunya kepada pelanggan dan meningkatkan kinerja serta kemampuan perusahaan secara menyeluruh.
 
Suparni pada kesempatan tersebut berharap dari even ini akan menghasilkan sistem yang lebih bagus dari kondisi yang ada, karena sistem yang bagus tersebut dibutuhkan sebuah perusahaan untuk memotret bagaimana perusahaan tersebut dikelola.“Namanya assesmen seperti halnya audisi ada beberapa tahap yang mesti dilalui, baik dari segi kekuatan, kelemahan dan berbagai sudut lain perusahaan,” ujarnya.
 
Sistem manajemen yang baik dengan model penataan seperti Malcolm Baldridge, menurutnya harus disadari oleh setiap elemen perusahaan, karena saat ini belum semua pengelolaan bidang telah sesuai dengan standar MB. Diperlukan proses alignment dan proses maping sistem pengelolaan agar bisa menuju best practise. “Jangan sampai kita ketinggian gelar tapi kenyataannya kosong.  Namun sebaliknya walau tanpa gelar tapi banyak isinya, itu lebih baik,” tandasnya.
 
Ia pun memberikan berbagai contoh improvement yang telah dilakukan di jajaran produksi.  “Tidak ada hal yang dikerjakan selain improvement, perencanaan dan peningkatan secara berkelanjutan. Sistem yang jelas akan melandasi hasil yang jelas pula.  Fokus pelanggan menjadi kunci keberhasilan bidang pemasaran dan market share yang bagus.  Sistem yang matching dengan IQA akan terbentuk kompetensi yang baik,” jelasnya.  
 
Selain itu dengan bantuan teknologi multimedia akan memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan itu semua, dan tentunya dengan didukung dengan konsep leadership  yang menjadi kuncinya.
 
Sumarwanto, Kadiv Pengembangan Perusahaan menyadari dalam dunia industri persemenan memang relatif tidak membutuhkan litbang yang progresif sebagaimana dalam industri elektronika.  Namun menurutnya SGG memiliki keunikan dalam sistem distribusi dan perdagangan.  
 
Sebelumnya paparan hasil feedback repot dari assessment disampaikan oleh Iman Ketua Assessor dari IQA.  Dalam assesmen tersebut timnya melakukan dengan beberapa metode pendekatan antara lain: menggunakan informasi dalam proses bisnis, data tahun lalu, klarifikasi proses dan validasi hasil bisnis melalui interview dengan para tenaga pimpinan senior dan tim champion serta staf terkait.  Setelah itu dilakukan pengecekan dilapangan dan wawancara serta pengisian kuesioner secara acak pada para pegawai.
 
Berikut ini sebagian OFI (Opportunity For Improvement) yang dibacakan Ketua Assesor yang diharapkan akan dibenahi agar bisa lebih meningkatkan performa perusahaan: Kriteria 2 Perencanaan Strategis, dalam mendeploy rencana strategis perusahaan belum sampai pada level individu sehingga akan sulit bagi perusahaan untuk memastikan kesesuaian kinerja individu dengan sasaran strategis perusahaan. Kriteria 3 Meskipun telah menanamkan aspek pelayanan pelanggan namun perusahaan tidak konsisten dan belum terukur dalam memberikan dorongan untuk memperkuat budaya fokus kepada pelanggan.  Pada kriteria 4 Manajemen Pengetahuan,  belum merata dalam hal pengendalian terhadap pelaksanaan proses pengumpulan dan penyebaran pengetahuan pegawai.  Kriteria 5 Fokus pada SDM, Walaupun SG telah menentukan faktor yang mempengaruhi keterikatan dan kepuasan tenaga kerjanya namun dalam penentuan tersebut belum ada pembedaan berdasarkan segmen tenaga kerja walaupun hasil ukurnya telah dipisahkan berdasarkan kelompok golongan / jabatan dan masa kerja serta departemennya. Kriteria 6 Manajemen Proses, Kompetensi inti organisasi belum tercermin secara rinci dan spesifik yang menggambarkan keunggulan khusus yang tidak dimiliki pesaing.  Kriteria 7, Hasil Bisnis, telah menunjukkan level kinerja yang baik namun beberapa hasil masih menunjukkan perlunya peningkatan untuk mewujudkan lingkungan kerja karyawan yang berkinerja tinggi. Hasil yang dilaporkan masih banyak indikator yang belum diproyeksikan.
 
Mengenai hasil assessment rencananya akan di umumkan pada 25 Nopember 2009 oleh Menneg BUMN di Jakarta.  Dalam hal ini ada tiga tingkatan atau tiga kelompok besar dalam IQA: Buruk (poor) dengan nilai antara 0 – 350, Rata-rata (average) dengan nilai antara 351- 650, Unggul (excelent) dengan skor 651 – 1000.  

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy