Dampak krisis ekonomi global kian terasa di tanah air pada tahun ini. Sejumlah pengelola produk disibukkan oleh persoalan-persoalan efisiensi agar roda perusahaan tetap berjalan. Disisi lain daya beli masyarakat cenderung turun.
Di balik persoalan krisis tersebut dalam era hyperkompetisi dimana persaingan merek produk makin ketat. Saat ini konsumen sulit menemukan keunikan sebuah merek produk dibanding merek produk lain. Hampir semua produk memberikan nilai yang sama. Dengan pertimbangan tersebut, pengelola produk dituntut lebih jeli dalam melihat dan mencari peluang pasar. Pengetahuan pasar secara cermat dan akurat diperlukan agar produk yang diedarkan bisa diterima oleh konsumen.
Populasi penduduk Solo sekitar 6,7 juta jiwa. Kawasan Solo merupakan potensi pasar yang harus diperhitungkan oleh para pengelola produk dan jasa. Hal ini terlihat dengan adanya pertumbuhan ekonomi sangat menggembirakan yang ditandai dengan semakin beragam dan banyaknya aktivitas ekonomi.
Survey Solo Best Brand Index 2009 bukan untuk meneliti merek terbaik saja namun dengan indikator ukur pangsa pasar, popularitas iklan dan merek, citra produk, kepuasan konsumen dan loyalitas pada merek, juga diteliti aspek sosial merek dan aspek ekspektasi ekonomi konsumen.
Ketua Penyelenggara SBBI ke 9 tahun 2009 Tri Wahyudi dalam sambutannya menyampaikan bahwa survei dilakukan secara berkala tiap tahun sampai pada tahun ke 9, selama ini para pelaku dunia usaha tidak pernah mendapatkan data kajian yang betul-betul diteliti dengan profil orang Solo dari lembaga riset lain. Banyak lembaga riset saat ini muncul tapi tidak melakukan peta profil Solo sebagai apa, kecuali apabila produsen secara pribadi mengadakan survei tersebut.
Solo Pos sebagai media masa bekerjasama dengan lembaga independen dari Pusat Studi Penelitian Pengembangan Manajemen dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta telah melakukan survei selama tiga bulan Maret – Mei 2009 dengan 17.313 responden untuk 58 kategori produk.
Dari hasil survei diketahui bahwa ada kecenderungan konsumen di Solo sudah tidak hanya bisa didekati secara emosional. Orang Solo dalam memilih produk cenderung kepada hal rasional. Ini suatu tren baru dalam menentukan strategi produk dan strategi pemasaran.
Dari data survei SBBI sejak tahun 2006 hingga 2008 peringkat Semen Gresik dalam best brand selalu menduduki posisi 2 setelah kompetitor utama. Namun semenjak adanya kegiatan – kegiatan secara persuasif di daerah Jawa Tengah khususnya di Solo Raya terjadi peningkatan, buktinya brand image Semen Gresik menduduki peringkat pertama di tahun 2009 ini
Penyerahan sertifikat Solo Best Brand Index 2009 pada 25 Juni 2009 di Surakarta tersebut diterima oleh Zen Basalamah Staf Bagian Perencanaan Pemasaran. Hadir juga pada kesempatan tersebut Nanang Rachmad Kasi Penjualan Wilayah Jateng dan Bahrudin Area Manajer wilayah Solo serta Distributor Semen Gresik Wilayah Solo.