Pada tahun 2011 ini, manajemen PT Semen Gresik (Persero) Tbk bakal mengucurkan dana corporate social responsibility (CSR) sebesar Rp 120 miliar. Dana sebesar itu sejalan dengan peningkatan keuntungan bersih korporasi.
Hal itu dikatakan Dirut PT Semen Gresik, Dr Dwi Soetjipto kepada wartawan di Surabaya, Senin (15/8/2011) malam. Dwi mengutarakan, dengan alokasi dana CSR yang besar diharapkan berimplikasi positif terhadap korporasi, terutama dalam perspektif image dan sosial.
Dia mengingatkan kepada stafnya yang menangani bidang CSR dan program kemitraan dengan UKM, agar lebih fokus menyusun dan mengimplementasikan program. Sehingga dana CSR yang besar itu berpengaruh positif kepada korporasi dan sasarannya tercapai secara efektif. "Dana CSR Semen Gresik jauh lebih besar dibanding produsen semen lainnya di Indonesia. Sayangnya, selama ini ada kesan seolah-olah dana CSR Semen Gresik itu kecil," tambahnya.
Fakta itu terbentuk, katanya, karena selama ini manajemen ikhlas sangat kuat di kalangan Semen Gresik. Prinsip yang diajarkan agama Islam bahwa kalau tangan kanan memberi, sebaiknya tangan kiri tak mengetahui benar-benar dipahami dan diimplementasikan Semen Gresik. "Tanpa bermaksud riya' dan sombong, program CSR harus lebih banyak dipublikasikan. Itu bentuk pertanggungjawaban kita kepada publik. Apalagi Semen Gresik adalah perusahaan terbuka," tandasnya.
Ada banyak program CSR yang dilakukan Biro Bina Lingkungan Semen Gresik. CSR itu tak hanya diberikan kepada UKM dan kelompok sosial di daerah produksi, seperti Kabupaten Tuban dan Gresik. CSR, khususnya program kemitraan UKM, diberikan kepada ribuan pengusaha kecil di Jatim, Jateng, Jabar, Bali, Nusa Tenggara, DI Yogyakarta, dan daerah lainnya. Cukup banyak UKM di bawah pembinaan Semen Gresik yang berhasil dan kini menjadi pengusaha mandiri. "Memang, sekarang kami lebih fokus sehingga capaian targetnya lebih efektif," kata Biro Bina Lingkungan Semen Gresik, Eko Honeng S.
Dengan alokasi dana CSR yang besar, manajemen Semen Gresik optimistis mampu memanfaatkan secara optimal terkait pengembangan korporasi ke depan. "Kita sebenarnya memiliki banyak teman, tapi belum bisa dimanfaatkan sebagai networking untuk kepentingan korporasi secara komprehensif," tandas Dwi Soetjipto.