Kembali pelatihan wirausaha merambah pesantren, setelah sebelumnya empat pesantren merasakan ‘sentuhan’ pelatihan ini yaitu Ponpes Wali Songo-Montong, kemudian Ponpes Sunan Bejagung-Semanding, Ponpes Manba’il Futuh, Beji – Jenu, Ponpes Al Hidayah, Leran Wetan - Palang, kini giliran Pondok Pesantren Nurul Jadid, Mandirejo - Merakurak menjadi sasaran tembak ‘virus’ wirausaha.
Pelatihan yang direncanakan selama 5 hari (15-19/7) tersebut dikhususkan untuk memberi bekal kepada peserta agar bisa berwirausaha mandiri, sehingga peserta tidak hanya menjadi ibu rumah tangga ‘biasa’, tetapi bisa menjadi ibu rumah tangga yang ‘luar biasa’, dengan berwirausaha mandiri sehingga memberi tambahan pendapatan bagi keluarga.
Seperti biasa materi yang diberikan pada pelatihan ini adalah cara memproduksi aneka kue untuk hari pertama; kemudian pada hari ke-2, kewirausahaan; hari berikutnya manajemen keuangan; hari ke-4, praktik bazar dan pada hari ke-5, pengetahuan praktis menjadi pengusaha yang berkah.
Pelatihan kewirausahaan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari 6 desa di sekitar pondok yaitu, Mandirejo, Kapu, Tahulu, Sambonggede, Tuwiri Wetan dan Tuwiri Kulon. Dengan jumlah peserta 91 orang yang tidak semuanya merupakan alumni Ponpes. Dibagi menjadi 3 kelas pelatihan yaitu kelas A, kelas B dan kelas C.
Memang dalam perkembangannya, pelatihan kewirausahaan ini, pesertanya tidak exsclusive hanya untuk kalangan ’ijo’ (sebutan untuk kalangan santri). Tetapi semua bisa mengikutinya, asal masih ada sheet yang tersedia, sebagaiman yang sering diungkapkan beberapa pimpinan pondok sebelum-sebelumnya.
Terkait dengan pelatihan ini, seperti yang sering dikatakan Faf Adisamsul, Kabag. Program Kemitaan & Bina Lingkungan sebelumnya, tujuan pelaksanaan pelatihan ini adalah memberi bekal kepada alumni pondok atau peserta pelatihan khususnya, untuk bisa juga berwirausaha mandiri, sehingga selain pintar dalam hal agama juga pintar dalam ber-mu’amalah.
Bahkan untuk menambah modal, peserta pelatihan yang berhasil ’mengamalkan’ ilmunya dengan mendirikan suatu wirausaha mandiri, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mendapat bantuan dana pinjaman lunak dari SG. ”Silakan buat proposal, ajukan ke kami, tidak harus diketik, sesederhana apapun proposal itu, tetap akan kami proses,” ujar Buchori, Kasi. Program Kemitraan, setiap kali memberi pembekalan kepada mitra binaannya.
Itulah SG, yang kiprahnya terhadap ’anak negeri’ tidak perlu diragukan lagi. Di usia yang lebih dari setengah abad atau tepatnya menginjak 52 tahun pada 7 Agustus mendatang, khususnya yang terkait dengan pelatihan alumni pondok pesantren ini, SG akan terus ’Tiada Henti Memajukan Santri, Memacu Santri Untuk Mandiri’