Tim Evaluasi TEY ke SMA SG

Kontes sekolah berwawasan lingkungan yang diselenggarakan Toyota Eco Youth (TEY), sebuah program CSR dari Toyota Indonesia kembali digelar. Kontes TEY ke-5 kali ini diikuti 22 sekolah yang tersebar di 18 kota penjuru tanah air dengan fokus penilaian  pada sustainability contess atau kontes berkelanjutan. TEY ke-5  ini semakin istimewa karena ada satu unsur baru yang menjadi nilai tambah bagi program sekolah yang mengikutinya, yakni pemanfaatan teknologi tepat guna ramah lingkungan (green sound technology) yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lingkungan sekitar sekolah.
 
Seperti tahun-tahun lalu, SMA Semen Gresik tidak ketinggalan dalam ajang bergengsi ini. Sebagai tindaklanjut dari tiga kali dilakukan mentoring oleh tim kontes sekolah berwawasan lingkungan dari Yayasan Kirai dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam ajang kontes Toyota Eco Youth (TEY) ke -5 ini. Memasuki babak akhir ajang tersebut tepatnya hari Selasa, 23 Februari 2010, tim juri TEY-5 secara langsung melakukan penilaian di sekolah SMA Semen Gresik.
 
Tim juri yang dipimpin Made Gede Mahardika langsung menuju lapangan untuk melihat dan mengevaluasi secara langsung implementasi proyek perbaikan lingkungan yang selama sekitar 6 bulan dalam mentoring oleh tim sebelumnya. Rumah kompos, rumah sayur, pembangkit listrik tenaga surya, sekolah dan desa binaan menjadi jujukan tim ini.
 
Dalam penilaian tersebut, tim juri yang terdiri dari Made Gede Mahardika (Toyota Manufacturing Jakarta), Triyoga S (Yayasan Kirai) dan Drajad Irianto (ITB) menilai sesuai bidang kompetensinya masing-masing. “Bobot penilaian nantinya akan dijadikan dua besar yaitu 70% untuk penilaian bidang lingkungan hidup dan 30% untuk penerapan teknologi tetapt guna dan ramah lingkungan,” ungkap Made Gede.
 
Menurut Ketua Tim Juri ini, program YET memiliki tujuan akhir dari sebuah lembaga pendidikan yaitu, menciptakan sekolah lingkungan binaan Toyota yang kelak menjadi percontohan bagi masyarakat yang ingin mempelajari proyek-proyek praktis pengelolaan lingkungan. Permasalahan lingkungan selama ini tidak mungkin bisa dikerjakan sendiri, oleh karena itu perlu dilakukan pengenalan pengetahuan kepada masyarakat, salah satunya melalui pelajar-pelajar dalam program lingkungan di sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
 
Sebagai tindaklanjut dari penilaian yang telah dilakukan, rencananya dari hasil penilaian ini akan diumumkan sekolah-sekolah mana yang berhak sebagai pemenang. Pengumuman tersebut akan disampaikan tepatnya pada 7 Maret 2010 di Jakarta bersamaan dengan seluruh peserta akan didatangkan ke Jakarta untuk memamerkan hasil karya mereka dalam sebuah pameran yang bertajuk Eco Product Internastional Fair 2010.
 
Sebagaimana dalam penilaian tersebut, sebelumnya Kepala Sekolah SMA SG Setyobudi menjelaskan perihal implementasi sekolah plasma SMA SG yang berwawasan lingkungan. Sebagai sekolah plasma, pengelolaan lingkungan di lingkungan SMA SG dilakukan oleh klub lingkungan hidup yakni Orales dan kelompok pecinta alam Kappela.
 
Sebagai sekolah lingkungan, ada 9 teknologi pengelolaan sampah yang telah diterapkan di SMA SG meliputi : fermentasi semi an-aerob, bokasi, biopori, takakura methode, daur ulang kertas, daur ulang pelepah pisang, pembuatan bahan bakar briket, dan pembuatan pupuk cair. Di sisi lain, sebagai terobosan baru dalam penghematan energi di lingkungan SMA SG telah menerapkan penghematan penggunaan sumber daya alam yakni pembuatan rumah sayur dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) “Kami manfaatkan pembangkit listrik tenaga surya ini tentunya bertujuan untuk menghemat energi listrik di lingkungan sekolah serta dapat menjadikan edukasi kepada siswa dalam mengurangi pemakaian energi tak terbarukan,” ujarnya.
 
Dipaparkan Budi, sebagai sekolah plasma, SMA SG memiliki 3 sekolah binaan meliputi SD SG, SMP SG, SD Negeri Gending dan 1 desa binaan yaitu RT 5 – RW 2 Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas. Dalam pembinaan terhadap desa dan sekolah-sekolah tersebut, mereka dikenalkan dan diimplemtasikan tentang teknologi pengelolaan sampah, di antaranya pengelolaan sampah organik, biopori, takakura dan rumah sayur. “Khusus untuk binaan di desa Gending kami tambahkan dengan teknologi pembuatan bokashi pupuk kandang,” terangnya. Hal tersebut, lanjut Budi, di karenakan di lingkungan desa tersebut salah satu warga memiliki binatang peliharaan berupa kambing. “Sedangkan pengelolaannya dilakukan oleh ibu-ibu PKK dan anggota karang taruna,” jelasnya.
 
Harapan menjadi pemenang dalam lomba ini merupakan hal yang lumrah bagi  SMA SG. Selain dapat meningkatkan citra sekolah berwawasan lingkungan di tanah air, pengetahuan terkait perihal pengelolaan lingkungan yang selama ini diberikan oleh tim mentoring TEY semakin bertambah. “Apabila SMA SG memperoleh predikat juara akan mendapatkan pengetahuan dan binaan dalam pengelolaan lingkungan oleh TEY,” harap Budi.
 
Kunjungan tim penilai TEY di SMA SG dihadiri Direktur SGF, perwakilan Diknas Kab. Gresik, BLH Kab. Gresik, Kepsek. SD, SMP di lingkungan SGF, Komite Sekolah SMA-SG, Tim pengerak PKK RT 5 – RW 2 Kelurahan Gending, Lurah Gending beserta staf.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy